Minggu, 06 April 2014

Cerita Rakyat Dari Pulau Bali : Asal Mula Singaraja.







Dahulu kala di Pulau Bali, tepatnya di daerah Klungkung hiduplah seorang Raja  yang bergelar Sri Sagening. Ia mempunyai istri yang cukup banyak. Istri yang terakhir bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji dan merupakan keturunan Kyai Pasek Gobleg. Namun malang nasib Ni Luh Pasek, sewaktu ia mengandung, ia dibuang secara halus dari istana, ia dikawinkan dengan Kyai Jelantik Bogol oleh suaminya.

Kesedihannya agak berkurang berkat kasih sayang Kyai Jelantik Bogol yang tulus. Setelah tiba waktunya ia melahirkan anak laki-laki yang dinamai I Gusti Gede Pasekan. Bayi bernama I Gusti Gede Pasekan makin hari makin besar, setelah dewasa ia mempunyai wibawa besar di Kota Gelgel. Ia sangat dicintai oleh pemuka masyarakat dan masyarakat biasa. Ia juga disayang oleh Kyai Jelantik Bogol seperti anak kandungnya sendiri. Pada suatu hari, ketika ia berusia dua puluh tahun, Kyai Jelantik Bogol memanggilnya.

“Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.” kata Kyai Jelantik Bogol.
“Mengapa saya harus pergi kesana, Ayah?”
“Anakku, itulah tempat kelahiran ibumu”.
“Baiklah, Ayah. Aku akan pergi kesana” jawabnya.

Sebelum berangkat, Kyai Jelantik Bogol berkata kepada anaknya, ”I Gusti, bawalah dua senjata bertuah ini, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Semang dan sebatang tombak bernama Ki Tunjung Tutur. Mudah-mudahan engkau akan selamat.”
“Baik,Ayah!”
Dalam perjalanan ke Den Bukit, I Gusti Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh orang di bawah pimpinan Ki Dumpiung dan Ki Kadosot. Setelah empat hari berjalan, tibalah mereka di suatu tempat yang disebut Batu Menyan. Disana mereka bermalam. Malam itu I Gusti Gede Pasekan dan ibunya dijaga ketat oleh para pengiringnya secara bergiliran.

Tengah malam, tiba-tiba datang makhluk gaib penghuni hutan. Dengan mudah sekali I Gusti Gede Pasekan diangkat ke atas pundak makhluk gaib itu sehingga ia dapat melihat pemandangan lepas dari lautan dan daratan yang terbentang di depannya. Ketika ia memandang ke timur dan barat laut, ia melihat pulau yang amat jauh. Sedangkan ketika ia memandang kearah selatan, pemandangannya dihalangi oleh gunung. Setelah makhluk gaib itu lenyap, didengarnya suatu bisikan.
“I Gusti, sesungguhnya daerah yang baru engkau lihat itu akan menjadi daerah kekuasaanmu.”
I Gusti Gede Pasekan sangat terkejut mendengar suara gaib itu. Namun ia juga merasa senang, bukankah suara itu adalah pertanda bahwa pada suatu ketika ia akan mendapat kedudukan yang mulia, menjadi penguasa suatu daerah yang cukup luas.
Memang untuk mencapai kemuliaan orang harus menempuh berbagai kesukaran terlebih dahulu. Ia menceritakan apa yang didengarnya secara gaib itu kepada ibunya. Ibunya memberi semangat untuk terus melakukan perjalanan. Keesokan harinya rombongan I Gusti Gede Pasekan melanjutkan perjalanan yang penuh dengan rintangan. Walaupun perjalanan ini sukar dan jauh, akhirnya mereka berhasil juga mencapai tujuan dengan selamat.
Pada suatu hari ketika ia berada di desa ibunya, terjadilah peristiwa yang menggeparkan. Ada sebuah perahu Bugis terdampar di pantai Panimbangan. Pada mulanya orang Bugis meminta pertolongan nelayan di sana, tetapi mereka tidak berhasil membebaskan perahu yang kandas.
Nahkoda perahu Bugis sudah putus asa, tapi tetua kampung nelayan datang mendekatinya.
“Hanya seorang yang dapat menolong Tuan.”
“Tuan, katakan saja, siapa yang dapat menyeret perahu kelautan?”
“Seorang anak muda, namun sakti dan perahu wibawa.” jawab tetua kampung.
“Siapa namanya?”
“I Gusti Gede Pasekan!”
Keesokan harinya orang Bugis itu datang kepada I Gusti Gede Pasekan. Ia berkata, ”Kami mengharapkan bantuan Tuan. Jika Tuan berhasil mengangkat perahu kamu, sebagian isi muatan perahu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya.”
“Kalau itu memang janji Tuan, saya akan mencoba mengangkat perahu kandas itu” jawab I Gusti Gede Pasekan.
Untuk melepaskan perahu besar yang kandas itu, I Gusti Gede Pasekan mengeluarkan dua buah senjata pusaka warisan Kyai Jelantik Bogol. Ia memusatkan pikirannya. Tak lama kemudian muncullah dua makhluk halus dari dua buah senjata pusaka itu.
“Tuan apa yang harus hamba kerjakan?”
“Bantu aku menyeret perahu yang kandas itu ke laut lepas!”
“Baik Tuan!”
Dengan bantuan dua makhluk halus itu ia pun berhasil menyeret perahu dengan mudah. Orang lain jelas tak mampu melihat kehadiran si makhluk halus, mereka hanya melihat I Gusti Gede Pasekan menggerak-gerakkan tangannya menunjuk ke arah perahu. Karena senangnya, orang Bugis itu pun menepati janjinya. Diantara hadiah yang diberikan itu terdapat dua buah gong besar. Karena I Gusti sekarang sudah menjadi orang kaya, ia digelari dengan sebutan I Gusti Panji Sakti.
Sejak kejadian itu, kekuasaan I Gusti Panji Sakti, mulai meluas dan menyebar kemana-mana. Ia pun mulai mendirikan suatu Kerajaan baru di daerah Den Bukit. Kira-kira pada pertengahan abad ke-17 ibukota Kerajaan itu disebut orang dengan nama Sukasada.
Semakin hari Kerajaan itu makin luas dan berkembang, lalu didirikanlah Kerajaan baru. Letaknya agak ke utara dari kota Sukasada. Sebelum dijadikan kota, daerah itu banyak sekali ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan baru disebut Buleleng. Buleleng adalah nama pohon yang buahnya sangan digemari oleh burung perkutut. Di pusat kerajaan baru itu didirikan istana megah, yang diberi nama Singaraja.
Nama itu menunjukkan bahwa penghuninya adalah seorang Raja yang seperti singa gagah perkasa. Hal ini dikarenakan I Gusti Panji Sakti memang dikenal sebagai sosok yang sakti dan gagah berani. Jika ada gerombolan bajak laut atau perampok yang mengacau, sang Raja turut maju ke medan perang bersama prajuritnya, karena itu tepatlah jika istananya disebut Singaraja.
Ada pula yang mengatakan bahwa Singaraja berarti "tempat persinggahan raja"’. Konon, ketika istananya masih ada di Sukasada, raja sering singgah disana. Dengan demikian, kata Singaraja berasal dari kata Singgah Raja.
Ibu Panji Sakti berasal dari kasta Sudra, yakni kalangan rendah pada masyarakat Hindu-Bali. Hal ini sangat menarik, sebab seseorang yang berasal dari kalangan rendah dapat menjadi orang yang berkedudukan tinggi dan mulia karena perjuangan dan usahanya yang keras meraih cita-cita.

TAMAT

Chapter 2 : Gemercik Cinta Dalam Mitos




GEMERCIK CINTA DALAM MITOS

 
 Chapter 2.


“ Ayu, mama dan papa akan pergi kerumah nenek besok dan menginap disana selama dua hari karena ada pertemuan keluarga ” kata mama ketika makan malam.
“ Jadi, aku dan Mika di rumah berdua? Apa kami tidak bisa ikut juga? ” tanyaku.
“ Sebenarnya kalian boleh ikut, tapi Mika ada ulangan besok, ya kan Mika? ”
“ Iya kak. Mika nggak mau nilai Mika turun kalau nggak ikut ulangan ” jawab Mika.
Sejak masuk SMP Mika tidak pernah lagi membuang waktunya untuk bermain. Mungkin karena rasa bersaingnya dalam berprestasi mulai muncul. Dia selalu menikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pelajaran kecuali olahraga, karena badannya agak lemah.  Mika memang pintar dan selalu mendapat juara di sekolahnya dan lagi dia ketua OSIS, mana mungkin dia mau merelakan satu ulangan terlewati.
“ Hem, kalau gitu jangan protes apapun yang aku masak“
“ Asal bukan makanan yang menyakitkan aku tidak akan protes ” jawabnya cuek.
“ Apa maksudmu ‘menyakitkan’ hah?! ”
“ Kakak pasti tahu apa yang aku maksud, ya kan ma? ”
“ Ya begitulah ” kata mama sambil mengalihkan pandangannya.
“ Huh!! Aku tahu..aku tahu. aku tidak akan membuat resep baru ” kataku kesal. Padahal aku suka membuat makanan-makanan baru, walau kadang harus masuk WC sepuluh kali sehari karena memakannya.
“ Oke jadi sudah diputuskan kalian berdua jaga rumah sampai mama dan papa kembali. Papa akan minta Dylan menginap disini untuk menemani kalian, dia pasti tidak akan menolak” kata papa yakin.
” Yee!!! Asyik! Aku mau minta tolong buat PR” Mika berteriak senang.
APA??!! Ya Tuhan....aku tidak mau.
 “ Papa, kenapa Dylan harus menginap disini sih? Aku dan Mika kan sudah cukup”
“ Kalau misalnya ada perampok atau pencuri Dylan pasti bisa melindungi kalian. Kalau hanya kalian berdua mana bisa, kalian kan perempuan” jawab papa.
“ ya kak. Lagi pula aku juga mau belajar sama kak Dylan” Mika ikut menimpali.
“ Kamu tidak perlu khawatir tentang Dylan. Dia kan anak baik, mama dan papa percaya padanya. Jadi kamu tidak usah cemas, oke?” kata mama.
“ Oke deh ” akhirnya mau tidak mau aku harus setuju, walau pun jantung ini berdebar kencang nantinya.

         Pagi itu aku bangun dengan malas, karena suara-suara yang mengganggu itu. Aku turun dari kamarku yang ada di lantai dua untuk melihat apa yang terjadi di bawah.
“ Selamat pagi, Ayu! Rambutmu naik tuh, ha..ha..ha” tawa Dylan mengagetkanku.
“ sedang apa kau disini pagi-pagi begini? ”
“ Lho om dan tante kan mau pergi jadi aku datang bantu-bantu dong. Laipula om memintaku untuk menjaga kalian berdua saat mereka pergi” jelasnya. Membuatku tersadar seketika.
“ Apa?? Jadi hari ini papa dan mama pergi? Aduh kenapa aku lupa sih?” aku segera membantu papa beres-beres.
“ Dasar kau ini! Dylan saja ingat” kata mama yang sedang mengengemas barang sambil geleng-geleng kepala.
“ Iya nih, kakak gimana sih?” kata Mika menimpali.
“ Maaf”
“ Oke semuanya sudah beres. Kami pergi dulu jaga diri baik-baik ya” kata papa sambil memeluk kami berdua.
“ Dylan tolong jaga mereka berdua, om percaya padamu” kata papa sambil menepuk pundak Dylan.
“ Serahkan saja padaku” jawab Dylan penuh keyakinan.
“ oke anak-anak kami berangkat dulu, nanti kami bawakan oleh-oleh” kata papa sambil melambaikan tangan.
“ Bye-bye”
Aku memandang mobil papa dan mama hingga hilang di belokkan jalan.
“ Jangan sedih gitu dong, kan masih ada aku ” Dylan menepuk bahuku. Membuatku sedikit kaget.
“ Siapa yang sedih? Mereka kan cuma pergi dua hari” aku berlalu meninggalkan Dylan.





Setelah keberangkatan papa dan mama ke rumah nenek, aku dan Mika bersiap ke sekolah. Dylan pun kembali ke rumahnya. Seperti biasa Mika selalu berangkat lebih dulu, karena dia kan ketua OSIS jadi harus datang pagi. Dan seperti hari-hari yang biasa kulalui, aku selalu berangkat bersama Dylan.
“ Bawa apaan tuh?” tanya Dylan sambil melihat kantong yang aku bawa.
“ Buku yang ku pinjam kemarin”
“ Oh..yang kau ceritakan itu ya?”
“ ya” jawabku singkat.
“ Sini aku bawakan”
“ Tidak usah, aku bisa bawa sendiri. Lagi pula berat lho”
“ kalau gitu barter. Ayu bawakan jaketku dan aku bawa bukunya” kata Dylan sambil mengenakan jaketnya padaku. Wajahnya dekat sekali, membuat jantungku berdegup kencang. Semoga dia tidak mendengar degup jantungku ini.
“ Nah! Cocok sekali” katanya sambil tersenyum lembut, membuat degup jantungku dua kali lipat lebih kencang. Tidak boleh! jangan sampai dia tahu aku berdebar-debar karenanya.
“ Dylan..terima kasih” kataku dengan wajah merah yang kusembunyikan di balik kerah jaket.
“ Santai saja. Kita kan teman dari kecil dan sudah seperti saudara”
Kata-kata itu bagai petir yang menyadarkanku bahwa kami hanya teman masa kecil yang tidak akan pernah menjadi lebih dari itu. Dan lagi aku sudah berjanji. Aku harus merelakannya.
Setelah jam istirahat berbunyi, aku dan Lian pergi perpustakaan untuk mengembalikan buku.
“ Ayu, setelah aku pikir-pikir. Bukankah dia tidak bisa bilang suka padamu karena janji itu?” kata Lian tiba-tiba.
“ Eh? Siapa yang kau maksud?” tanyaku bingung.
“ Dylan. Andai Dylan menyukaimu pun, dia tetap tidak bisa bilang kan? Karena ada janji itu”
“ Masa’ sih?” aku tak percaya, tapi kata-kata Lian mulai membuatku berharap.
 “ Ayu sampai berjanji seperti itu berarti sebenarnya punya keinginan untuk melewati batas teman sejak kecil, kan?” jantungku berdegup mendengar hal itu.
Tetapi karena sudah terlanjur berjanji begitu, berarti tidak ada gunanya penasaran pada perasaanya. Tapi kata-kata Lian mengiang di kepalaku.
  
To Be Continued.....